Pertahankan Teknik Jemuran Padi Tradisional, Bukti Petani Wanasari Lestarikan Adat


Pasca Panen raya Padi POKTAN Wanasari kembali melakukan rutinitas kegiatan penanganan Padi secara tradisional, dimana Petani di Wanasari menggunakan Teknik Penjemuran padi local dengan menggunakan Lantayan, Teknik ini di nilai sangat ampuh menurunkan kadar air dalam padi yang telah di panen, sebelum menjadi Gabah Kering Giling, atau GKG, biasanya Padi akan di jemur dibawah terik matahari sampai kering dan siap di giling.

Berbeda dengan padi variatas unggul padi jatuhan, padi yang di tanam di wanasari mayoritas menanam padi local, sehingga adat dalam pengelolaan tanaman padi masih di pertahankan, salah satunya cara penjemuran. dengan menggunakan lantayan kadar air akan turun dengan sendirinya, tanpa perlu menjemur di bawah terik matahari langsung, meskipun di musim penghujan tapi kadar air akan turun. 

Hal ini tentu menjadi keunikan sendiri, mengingat budaya ini di lihat sebagai suatu budaya yang dulu orang tidak pernah melihat bahwa filosofi menjemur dengan cara ini sangat luarbiasa fungsinya. bagi masyarakat adat, menjemur dengan cara ini berarti kita telah menempatkan padi sebagai bahan pokok yang harus di perlakukan dengan layak, maka tak akan aneh jika lantayan yang di miliki masayarakat adat lokasinya ada di pinggiran jalan, yang secara logis seharusnya itu mudah sekali akan hilang oleh pencuri, namun, di beberapa wilayah adat yang menggunakan lantayan sebagai media simpan sebelum masuk ke lumbung sangat minim sekali ada informasi kehilangan padi dari lantayan.

Adat istiadat jemuran dengan lantayan memberikan keuntungan besar bagi petani, karena selain hemat tempat dan sangat bernilai mistis, nyatanya memang sangat efisien dan aman. hal inilah yang menjadi pertimbangan bagi masyarakat adat tetap mempertahankan jemuran dengan cara ini. demikian Juhenda, MTD wanasari saat menjelaskan lewat wawancara dengan Info-Tani terkait dengan Lantayan.

Comments